breadcrumb
breadcrumb
menu
Menu Cepat
Artikel Kampus
Informasi & berita terbaru
STIESIA Surabaya dan BPSDM Jatim Bahas Cara Baru Mengelola Birokrasi di Era AI
Cara Membangun Jaringan Profesional bagi Staff Operasional Bisnis
Bukti Staf Pembukuan Siap Melanjutkan Kuliah Jurusan S1 Akuntansi
STIESIA Surabaya dan BPSDM Jatim Bahas Cara Baru Mengelola Birokrasi di Era AI
STIESIA Surabaya dan BPSDM Jatim membahas Bureaucracy 5.0, kepemimpinan, AI, dan perubahan birokrasi dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator 2026.
Kerja di pemerintahan bukan cuma soal mengikuti aturan dan menyelesaikan laporan. Ketika teknologi berkembang cepat dan kebutuhan masyarakat berubah, aparatur sipil negara (ASN) juga dituntut bisa menyesuaikan cara kerja.
Persoalan inilah yang dibahas dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan VI dan VII Tahun 2026 yang diselenggarakan BPSDM Provinsi Jawa Timur. Dalam kegiatan tersebut, STIESIA Surabaya ikut berkontribusi melalui dosennya, Dr. Emeralda Ayu Kusuma, S.Sos., M.Si., sebagai narasumber.
Birokrasi Tidak Cukup Hanya Patuh pada Aturan
Dalam materi “From Rules to Resilience: Memimpin Manajemen Perubahan ASN menuju Bureaucracy 5.0”, Emeralda mengajak peserta melihat birokrasi dari persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Aturan tetap menjadi dasar, tetapi birokrasi juga perlu mampu menghadapi perubahan teknologi, krisis, dan kebutuhan masyarakat. Sebab, target administrasi yang tercapai belum tentu berarti pelayanan sudah lebih baik jika masyarakat masih harus antre panjang dan melewati prosedur yang rumit.
Baca juga: Cara Staf Akuntansi Membagi Waktu Kuliah dan Pekerjaan: Pisahkan Pekan Tutup Buku dan Persiapan RPL
Keberhasilan Pelayanan Perlu Dilihat dari Dampaknya
Pembahasan tersebut membawa peserta pada perbedaan antara output dan outcome. Output berbicara tentang apa yang berhasil dibuat atau diselesaikan, sedangkan outcome melihat perubahan yang benar-benar dirasakan.
Sebuah aplikasi, misalnya, belum tentu membuat pelayanan lebih baik hanya karena sudah diluncurkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masyarakat menjadi lebih mudah mendapatkan layanan setelah aplikasi tersebut digunakan. Cara berpikir seperti ini menjadi penting bagi pemimpin yang bertugas mengelola perubahan di instansinya.
Bureaucracy 5.0 Mengajak ASN Lebih Siap Menghadapi Perubahan
Emeralda memperkenalkan konsep Bureaucracy 5.0 dengan lima karakter yang disebut 5A, yaitu Anticipatory, Adaptive, Aligned, Augmented, dan Accountable.
Sederhananya, ASN perlu mampu membaca masalah lebih awal, menyesuaikan diri, bekerja lintas unit, menggunakan teknologi untuk membantu pekerjaan, dan tetap bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat. Salah satu pesan yang cukup menarik adalah perubahan tidak harus selalu dimulai dengan membuat aplikasi atau aturan baru. Masalahnya perlu dirumuskan lebih dulu.
Baca juga: Bukti Staf Pembukuan Siap Melanjutkan Kuliah Jurusan S1 Akuntansi
Tidak Semua Program Harus Dipertahankan
Menariknya, materi juga membahas exnovasi, yaitu keberanian menghentikan program, prosedur, laporan, atau aplikasi yang sudah tidak memberikan manfaat. Logikanya sederhana. Kalau sebuah laporan sudah tidak pernah digunakan untuk mengambil keputusan, apakah ASN masih perlu menghabiskan waktu untuk membuatnya?
Mengurangi pekerjaan administratif yang tidak lagi berguna dapat memberikan Dividen Waktu. Waktu tersebut kemudian bisa dialihkan untuk pekerjaan yang lebih dekat dengan pelayanan masyarakat.
AI Tetap Membutuhkan Manusia di Balik Keputusannya
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) juga menjadi bagian dari pembahasan. AI dapat membantu pekerjaan pemerintahan, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan aturan dan pengawasan yang jelas.
Risiko penggunaan AI untuk merangkum dokumen tentu berbeda dengan penggunaan AI dalam layanan publik atau penyaluran bantuan. Karena itu, kualitas data, pengawasan manusia, keadilan keputusan, audit, dan mekanisme pemulihan perlu diperhatikan.
Baca juga: Cara Membangun Jaringan Profesional bagi Staff Operasional Bisnis
STIESIA Surabaya Membawa Ilmu Kampus ke Persoalan Nyata
Keterlibatan dosen STIESIA Surabaya dalam PKA BPSDM Jawa Timur menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di kampus bisa langsung bertemu dengan persoalan di dunia kerja. Semangat ini sejalan dengan tagline “STIESIA Berdampak”, yang mendorong kampus menghadirkan pendidikan yang dekat dengan kebutuhan bisnis, teknologi, dan masyarakat.
STIESIA sendiri telah berdiri sejak 20 April 1972 dan kini berfokus pada bidang ekonomi, akuntansi, manajemen, dan perpajakan. Kolaborasi dengan BPSDM Jawa Timur menjadi salah satu contoh bagaimana keilmuan dosen dapat dibawa keluar dari ruang kelas dan digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Kuliah Juga Perlu Dekat dengan Kebutuhan Dunia Kerja
Bagi kamu yang sedang mencari informasi kuliah, jurusan, tren karier, dan skill yang dibutuhkan dunia kerja, kamu bisa mulai melalui kelaskaryawan.id. atau stiesia.id. Ikuti juga Instagram Kelas Karyawan STIESIA Surabaya dan Channel WhatsApp Komunitas Kuliah untuk mendapatkan informasi terbaru seputar kampus, kegiatan akademik, program kuliah, dan pengembangan karier.
Kalau kamu sudah bekerja dan ingin melanjutkan pendidikan tanpa meninggalkan pekerjaan, Program Perkuliahan Karyawan (P2K) bisa menjadi pilihan untuk tetap bekerja sambil kuliah dan mengembangkan kompetensi dan jika kamu sudah siap kamu bisa daftar kuliah di STIESIA sekarang! Karena Perubahan Dimulai dari #BeraniKuliah.
Hubungi layanan kami
Pusat Bantuan Kampus
Kampus STIESIA SURABAYA • Jl. Menur Pumpungan No. 30 Kelurahan Menur Pumpungan, Kec. Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur 60118
Tagged (Tags) :
© 2026 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya. All rights reserved.
STIESIA SURABAYA